Gudang Burung – Tim relawan pengamat burung di garis pantai negara bagian Victoria dan Australia selatan akan meninjau jumlah kakatua berperut oranye, salah satu spesies burung yang paling terancam di Australia.

Menurut keterangan Departemen Lingkungan dan Industri Primer Victoria, hanya ada sekitar 70 burung kakatua berperut oranye yang tersisa di alam bebas.
Spesies ini berkembang biak pada musim panas di Tasmania dan kemudian terbang ke pinggiran pantai Victoria dan Australia selatan, selama musim dingin.
Habitat yang hilang, meningkatnya jumlah predator dan ketidakmampuan untuk berkembang biak adalah alasan-alasan di balik penurunan jumlah populasi kakatua langka ini.
Koordinator Pencarian Tingkat Kawasan dari lembaga pemerhati spesies burung ‘Birdlife Australia’, David Williams, mengutarakan, tim relawan akan memulai pemantauan minggu kedua bulan Mei ini.
Ia menambahkan, pemantauan ini akan membantu upaya konservasi guna menyelamatkan spesies burung yang populasinya terancam ini.
“Kakatua yang sungguh menyedihkan…mereka punya siklus hidup yang sangat berat sehingga kita tak bisa menjamin bahwa 70 kakatua di Tasmania itu benar-benar berpindah seluruhnya ke daratan utama saat musim dingin,” ujar David.
Tim relawan akan menyebar anggota mereka di sepanjang pantai selat Bass, Victoria; wilayah Pelabuhan Barat; Semenanjung Bellarine; Pantai Selancar serta pantai barat daya Victoria, dan juga kawasan danau rendah serta Coorong di Australia bagian tenggara.
“Hal yang menakjubkan jika kita dapat menolong spesies ini. Selain itu, mengamati burung juga hal yang menyenangkan untuk dilakukan, berjalan menyusuri bibir pantai yang basah dan tambak garam. Akan ada sekelompok predator dan juga semua jenis burung berhabitat air yang dapat memanjakan mata, jadi jika anda adalah pemerhati burung, kegiatan ini sangat mengasyikan,” tutur David

.


Gudang Burung – Namanya memang kipasan kebun, julukan yang mengidentikkannya sebagai burung yang gemar bermain di perkebunan. Namun, kenyataannya adalah ia malah sering terlihat di perkotaan. 
Bagi kita yang tinggal di Pulau Jawa, mendengar dan melihat cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster) atau kerabatnya adalah hal biasa. Akan tetapi, jangan harap hal serupa terjadi di Ternate, Tidore, Halmahera dan sekitarnya. Burung raja permukiman di sini adalah kipasan kebun (Rhipidura leucophrys).
Sosoknya mudah ditandai. Seluruh tubuhnya berwarna hitam kecuali bagian perut yang putih. Kadangkala, tampak alis putih memanjang di atas matanya. Di Maluku dan Maluku Utara, sebutannya adalah Baikole yang dalam bahasa lokal mengandung arti “pantat bergoyang”.
Sebagaimana burung kipasan lain, kipasan kebun memiliki kebiasaan mengibarkan ekornya laksana kipas para pesilat mandarin, sembari menggoyang-goyangkannya. Jenis ini tersebar luas di Maluku dan Maluku Utara, Papua, hingga Australia. Di Maluku dan Maluku Utara, kipasan kebun lah yang mengisi relung yang biasa digunakan oleh cucak kutilang di Jawa, yaitu mulai daerah permukiman sampai kebun-kebun pinggiran hutan.
Di Ternate, kipasan kebun ini begitu mudah dilihat di wilayah kota. Mereka tidak begitu terpengaruh dengan kehadiran manusia. Dan sebagai pemakan serangga, mereka akan blusukan ke lorong-lorong perumahan, bahkan hingga ke tempat pembuangan sampah guna mencari mangsanya itu. 
Hal unik lainnya terlihat pada sarangnya. Mereka terbiasa bersarang di cabang-cabang kecil pohon mangga dan rambutan di pekarangan rumah. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang membuat sarang di kabel listrik sepanjang jalan, hal yang tidak dilakukan oleh cucak kutilang. Sarangnya seperti mangkuk, berdiameter 8-10 centimeter. Meski terbuat dari rerumputan, namun terjalin sangat rapat, rapi, dan kokoh. Kala berbiak, jumlah telurnya sekitar dua butir.
Hal yang sedikit mengkhawatirkan adalah mulai datangnya tamu tak diundang di perkotaan, seperti di Ternate ini. Dia adalah cucak kutilang yang mungkin merupakan burung piaraan yang lepas.  Sebagai jenis introduksi, cucak kutilang memiliki relung ekologi yang sangat mirip dengan kipasan kebun. Bisa jadi, suatu saat jika tidak dikendalikan, cerita sukses cucak kutilang menguasai perkotaan Jawa, akan berlanjut menggusur kipasan kebun, sebagai tuan rumah, di Maluku dan Maluku Utara.


Gudang Burung – Poʻouli atau Black-faced Honeycreeper memiliki nama latin Melamprosops phaiosoma. Burung ini adalah burung endemik Hawaii. Burung ini merupakan bagian dari subfamily Drepanidinae (Hawaiian honeycreeper) dan merupakan satu-satunya anggota dari genus Melamprosops.

Burung Poʻouli memiliki bulu berwarna cokelat pada bagian atas, putih keabuan di bagian bawah, dan area wajah berwarna hitam. Untuk yang sudah dewasa, terdapat bagian berwarna silver keabuan atas bagian wajah yang berwarna hitam. Untuk burung Poʻouli yang masih remaja, penampilannya nyaris sama. Yang membedakan adalah warna hitam pada bagian wajahnya lebih kecil, dan pada bagian atas wajah tidak ada warna abu-abu.

Burung Poʻouli baru diidentifikasi pada tahun 1973 oleh siswa dari University of Hawaiʻi, yang menemukan burung ini di bagian Timur Laut Haleakala di Pulau Maui. Burung ini ditemukan selama dilakukan proyek Hana Rainforest pada ketinggian 1.980 m di atas permukaan laut.


Poʻouli merupakan spesies pertama dari Hawaiian Honeycreeper yang sudah dicari sejak tahun 1923. Burung jenis ini tidak memiliki kemiripan dengan burung-burung Hawaii lainnya. Berdasarkan penelitian DNA, ditemukan bahwa burung ini memiliki hubungan dengan honeycreeperspurba. Konon tidak ada satu pun burung di dunia ini— baik yang sudah punah atau yang masih eksis— yang memiliki struktur mirip dengan burung Poʻouli ini.

Makanan burung Poʻouli antara lain siput, serangga, dan laba-laba. Sementara Habitat asli burung Poʻouli ini hanyalah di hutan ‘ōhi‘a lehua(Metrosideros polymorpha).

Sejak tahun 2004, dilakukanlah sebuah survey yang sangat ekstensive  untuk menentukan berapa jumlah burung jenis ini yang masih hidup di dunia. Namun tidak ada hasil. Meskipun demikian, BirdLife International dan IUCN menetapkan bahwa populasi burung ini masih berada pada status “Kritis (CE)”, hingga baru-baru ini dikabarkan bahwa burung jenis ini benar-benar sudah punah.

Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab menurunnya populasi burung Poʻouli secara drastis. Diantaranya adalah hilangnya habitat, menjangkitnya penyakit yang disebarkan oleh nyamuk, dimangsa oleh babi, hewan pengerat, kucing, dan juga musang kecil Asia, serta menurunnya jumlah siput pohon yang merupakan makanan utama burung Poʻouli.