Danau Kematian? Fakta atau Mitos?

Gudang Burung - Sebuah danau di Tanzania dilaporkan bisa membunuh sekaligus mengubah hewan menjadi patung. Danau yang memiliki nama Danau Natron tersebut memiliki senyawa kimia berbahaya yang dapat mengubah apapun yang tercebur ke dalamnya menjadi...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Merawat Merpati Balap

Gudang Burung - Untuk tahu ciri merpati balap yang berkualitas mutu bisa dipandang dari paruhnya, wujud kepalanya, matanya, dadanya, sayapnya, bulu jawatnya, warna bulu badan, supit, ekor, kakinya.Berikut nsedikit uraiannya : Ciri m...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Kisah Pemburu Rangkong di Belahan Utara Kalimantan Timur


Gudang Burung Kampung Merasa adalah salah satu dari ribuan kampung di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kampung yang terletak  di Kecamatan Kelay, dan dipadati sekitar 1000 jiwa ini, berdiri sejajar dengan salah satu sungai utama yang bernama sama, Sungai Kelay. Nyaris semua aktivitas penduduk desa ini, tidak terlepas dari aliran sungai ini.

Bentangan alam yang indah serta hutan yang masih terlihat rapat di kawasan tersebut, menjadi rumah bagi keragaman hayati di dalamnya. Namun, seperti nasib banyak hutan lain di Indonesia, tangan-tangan jahil pun terus mengintai untuk mengekspolitasinya. Ratusan spesies mamalia, burung dan reptil hidup sebagai bagian dari sebuah rantai ekosistem di hutan ini. Burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros) adalah salah satu spesies yang mudah ditemui di kawasan ini.
Burung yang memiliki jambul paruh berwarna merah tersebut, sejak tahun 2012 silam semakin marak diincar para pembeli dari luar negeri. Hal ini seperti disampaikan oleh Kepala Kampung Merasa, Effendi. “Warga kampung beberapa bulan lalu sering melakukan perburuan burung rangkong itu, karena banyak permintaan dan harganya cukup tinggi. Yang beli orang dari luar negeri, tapi lewat pengepul,” kata Effendi yang ditemui beberapa waktu lalu di Kampung Merasa.
Seiring ramainya perburuan rangkong di kampung Merasa, harga kepala rangkong pun meroket mencapai jutaan rupiah. Penduduk kampung yang mayoritas hidup dari berburu, mencari kayu gaharu  dan petani itu, sejak awal tahun ini semakin sering melakukan perburuan terhadap burung yang dilindungi tersebut.
Menurut Effendi, sebagai kepala kampung yang juga pernah mengikuti perburuan rangkong tersebut, setiap subuh, ia bersama para penduduk telah memasuki hutan yang ada di belakang kampung, bahkan ia bergerak bersama penduduk menyusuri sungai Kelay, untuk mencari lokasi dimana burung yang sering berkelompok tersebut bertengger.
“Saya waktu itu mendengar besarnya permintaan kepala burung rangkong itu. Bersama-sama penduduk kampung kami melakukan perburuan sejak subuh, kami ada yang membawa sumpit, ada yang membawa sejata rakitan, masuk ke hutan di belakang kampung, bahkan kami juga mencari dengan menyusuri sungai,” kata Effendi.
 “Kalau sudah dapat burungnya, kami langsung potong di tempat, kadang dagingnya kami makan, kepalanya kami simpan, kadang kami tinggalkan begitu saja. Kami kalau berburu bisa berhari-hari, bisa dua hari bahkan tiga hari. Sekali berburu bisa dapat tiga sampai empat ekor. Burung ini kadang berkelompok dan selalu berpasangan.”
Setelah kembali ke kampung, para pemburu tersebut mulai mengumpulkan hasil buruannnya. Lalu mereka menghubungi perantara pembeli untuk mengambil barangnya. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Burung enggang ini sempat menjadi primadona di kampung Merasa, namun saat ini aktivitas perburuan sudah terhenti.
Saat ini, permintaan anjlok dan harga semakin jatuh. Harga setiap paruh bahkan hanya mencapai Rp 100 ribu rupiah perkepalanya. “Kami saat ini sudah tidak lagi melakukan perburuan, karena harganya yang jatuh, bahkan hanya sampai ratusan ribu, tidak sesuai dengan biaya yang kami keluarkan dan resiko yang kami tanggung bila melakukan perburan,” lanjut Effendi
Menurut Effendi, kepala rangkong badak ini digunakan sebagai obat dan ukiran. Biasanya peminatnya dari Negara China. “Kalau kepala rangkong yang sudah diukir pasti sangat mahal, lalu ada yang bilang juga bisa sebagai obat, tidak tahu bagaimana caranya,” tambah Effendi.
Dari data yang ada, Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Mayoritas, rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Di daerah pegunungan (> 1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Pulau Sumatera menempati jumlah terbanyak dengan 9 jenis, di susul dengan Kalimantan dengan 8 jenis. mongabay

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Kontroversi China dengan Merpati Balap Belgia

Gudang Burung - Sekitar 1.200 ekor burung dara balap Belgia masih ditahan pihak berwenang China karena muncul sengketa bea masuk. Seharusnya burung-burung ini hanya dikarantina selama satu bulan, tetapi sekarang telah dikarantina selama dua bulan ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Berkomunikasi dengan Bahasa Burung? Inilah Penduduk Desa Kuskoy

Gudang Burung - Jauh sebelum orang-orang di Kuskoy, sebuah desa kecil di Turki, memiliki listrik, mereka menemukan cara sederhana yang brilian untuk berkomunikasi dari jarak jauh, yakni dengan bersiul.Orang Kuskoy menyebutnya "bahasa burung" atau ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Ahmad Divonis 7 Tahun Gara-Gara Burung

Gudang Burung - Gara-gara mencuri seekor burung yang nilai jualnya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, Ahmad Razali (27) harus duduk di kursi pesakitan, di ruang sidang Pengadilan Negeri Subang Selasa (1/10/2013).Ahmad didakwa atas tuduhan pencuria...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

”SI Burung Singa" Milik Iran Dikembalikan AS

Gudang Burung - Sebuah piala perak berusia 2700 telah dikembalikan oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS), ke negara pemilik artefak tersebut, Iran. Kepala Warisan Budaya Iran, Mohammad-Ali Najafi menilai pengembalian artefak itu merupakan...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

PAD Sarang Burung Walet Rp. 0

Gudang Burung - Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Metro dari pajak sarang burung walet dan sriti sama sekali tidak memberikan kontribusi. Padahal, target yang ditetapkan hanya sebesar Rp 20 juta per tahun.Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Metro Bas...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

400 Burung Hampir Diselundupkan ke Surabaya

Gudang Burung - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah menggagalkan upaya penyelundupan 400 burung dilindungi jenis kacer, muray batu, dan cucak hijau dari Palangkaraya.Sebanyak 400 burung itu akan dibawa menuju Surabaya, Jawa Timur, ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Balai Karantina Gagalkan Penyelendupan Burung

Gudang Burung - Petugas Balai Karantina Pertanian Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menggagalkan pengiriman 420 ekor burung dengan tujuan Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/9/2013).Ke-420 burung itu ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Petani Sleman Basmi Tikus dengan Tyto Alba

Gudang Burung - Berbekal studi banding ke Kabupaten Demak, Jawa Tengah, warga Dusun Kruwet, Desa Sumberagung, Moyudan kini memiliki burung hantu sebagai pemangsa tikus. Keberadannya dinilai dapat mengurangi hama secara signifikanAkhirnya warga dus...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Pencemaran Lingkungan dapat Pengaruhi Kicauan Burung


Gudang Burung Nyanyian burung ternyata bisa berubah akibat pencemaran lingkungan. Hasil penelitian tim pakar burung Laboratorium Ornitologi Universitas Cornell di Amerika Serikat mengungkap terjadinya inkonsistensi nyanyian burung yang dipicu kontaminan di sedimen Sungai Hudson di Negara Bagian New York.

Pemimpin penelitian, Sara DeLeon, bekerja sama dengan Timothy DeVoogd dan André Dhondt mempelajari populasi burung penyanyi chickadees hitam (Poecile atricapillus) dan pipit lagu (Melospiza melodia) yang bersarang di sepanjang lembah Sungai Hudson. 


Daerah ini selama beberapa dasawarsa tercemar limbah PCB dari industri manufaktur elektronik di hulu sungai. PCB alias polychlorinated biphenylsadalah polutan kimia sintetis yang bisa memicu efek beracun dan mengganggu perkembangan pada manusia dan satwa liar.

DeLeon mengatakan, burung penyanyi memberi makan anak mereka dengan serangga dari sedimen sungai. Padahal serangga yang digunakan sebagai sumber makanan utama itu telah terkontaminasi PCB. Beberapa burung terus memakan serangga tercemar sepanjang hidupnya, sehingga meningkatkan konsumsi PCB dalam tubuhnya.

Untuk mengetahui dampak kontaminan terhadap perubahan nyanyian burung, DeLeon dan rekan-rekannya mengamati dan merekam nyanyian kedua populasi burung. Mereka juga mengukur kadar dan mengidentifikasi varian PCB di sepanjang sungai. Total ada 209 varian limbah PCB yang dibedakan berdasarkan posisi dan jumlah atom klorin. DeLeon menguji 41 variasi ini untuk mengisolasi efeknya terhadap perubahan nyanyian burung.

Hasilnya, kadar PCB dalam darah burung chickadees hitam dan pipit lagu selaras dengan daerah yang tercemar. Semakin tercemar daerah tempat tinggal burung, semakin tinggi kadar PCB dalam darah mereka. Secara umum, burung pipit lagu lebih banyak tercemar PCB berkadar klorin rendah, sedangkan chickadees hitam terpapar PCB berkadar klorin tinggi.

"Chickadees hitam menunjukkan variasi nyanyian yang lebih beragam. Ada perubahan rasio 'glissando' pada nada pertama nyanyian mereka yang berisi dua nada, yaitu 'fee-bee, fee-bee'," ujar DeLeon. Burung pipit lagu, yang nyanyiannya lebih lama, juga menunjukkan perubahan getaran suara yang diduga akibat terpapar jenis molekul PCB yang kurang beracun.

DeLeon mengatakan, di daerah yang terpolusi PCB, sinyal identitas spesifik dalam nyanyian chickadee hitam menjadi lebih bervariasi secara signifikan. Variasi getaran suara dalam nyanyian burung pipit lagu di daerah tercemar PCB juga menjadi bermacam-macam.

"PCB dapat mempengaruhi produksi lagu, sebuah komponen penting dalam komunikasi di dunia burung," ujar DeLeon, seperti dikutip Guardian dan Sciencedaily, Senin, 23 September 2013. Perubahan kualitas nyanyian dua populasi burung itu juga sekaligus menjadi indikator efek beracun PCB terhadap lingkungan di sepanjang Sungai Hudson.

André Dhondt, direktur Bird Population Studies di Laboratorium Ornithologi Universitas Cornell, menambahkan dampak PCB terhadap organisme terbilang sangat rumit. Penelitian ini tidak melihat pengaruh PCB jenis tertentu terhadap perubahan nyanyian burung, tetapi hanya mengukur tingkat pencemaran PCB secara keseluruhan. "Tapi penelitian ini mengkonfirmasi pengaruh polutan terhadap komunitas burung," kata dia. Tim mendalami penelitian untuk mengisolasi jenis PCB yang bisa mempengaruhi nyanyian burung.

Spesialis ekosistem muara Hudson dari New York Sea Grant, Nordica Holochuck, mengatakan penelitian ini sangat menarik bagi para pemangku kepentingan di lembah Hudson. "Limbah PCB yang tidak mematikan pun ternyata berdampak terhadap organisme," ujarnya.

DeLeon mengatakan, para ilmuwan harus selalu memperhitungkan keberadaan kontaminan setiap meneliti organisme yang hidup di lingkungan yang tercemar. Sebab, kontaminan alias polutan selalu bertahan lama dan meluas di lingkungan. "Kita harus mengetahui bagaimana perubahan lingkungan mempengaruhi organisme," ujarnya. Penelitian berjudul The Effect of Polychlorinated Biphenyls on the Song of Two Passerine Species ini diterbitkan dalam jurnal PLoS ONE. 

Baca selengkapnya dijamin seru! »

JEBREEEETTTT – AKHIRNYA INDONESIA AFF U-19 MENANG

PENANTIAN LAMA PIALA AFF UNTUK INDONESIA..Akhirnya bisa diraih juga..hai sobat KicayMania..barusan nonton sepak bola piala Aff U-19 yang sangat heboh,menegangkan,penuh dramastis.Dari tadi nonton sambil teriak teriak,sambil ketawa dengerin pembawa acara...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Penggunaan Logo Burung di Mobil

Gudang Burung - Sudah empat produsen mobil asal Jepang, Toyota, Daihatsu, Honda, dan Nissan, yang telah meluncurkan mobil murahnya. Toyota dengan Toyota Agya, Daihatsu dengan Ayla, Honda dengan Brio Satya, GO dan Nisasn dengan Datsun Go ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Demi Makan, Pemulung Curi Burung di Klaten

Gudang Burung - Berdalih butuh uang untuk makan, seorang pemulung bernama Rohadi (53), nekat mencuri burung. "Saya baru sekali ini. Sehari-hari saya biasa mencari rongsokan. Saya terpaksa melakukannya karena membutuhkan ua...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Pengamat Burung Tewas Diinjak Gajah

Gudang Burung - Seorang pengamat burung berkewarganegaraan Inggris diinjak hingga mati oleh seekor gajah di daerah selatan India, Jumat (20/9/2013). Insiden itu rejadi di dekat pusat perlindungan harimau di hutan Masinagudi, kabupaten Ni...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Rusaknya Lampu LaLin Karena Kotoran Burung


Gudang BurungWarga Kota Shiojiri dan Matsumoto di Jepang harus dipusingkan dengan matinya lampu lalu lintas pada Rabu, 28 Agustus silam. Polisi juga dibuat kewalahan untuk mengatur para pengendara agar kemacetan bisa diurai. Rupanya, penyebab matinya lampu lalu lintas adalah penumpukan kotoran burung merpati di salah satu rangkaian.

“Menurut Chubu Electric Power Company cabang Nagano, sejumlah burung telah buang air besar di isolator di Gardu Idegawa di Matsumoto,” tulis laman Japan Today, Senin, 2 September 2013. Tumpukan kotoran ini begitu besar sehingga menetes di isolator gardu yang akhirnya menyebabkan korsleting listrik.

Sejak pukul 09.35 waktu setempat hingga sekitar pukul 10, polisi lalu lintas turun tangan mengatur persimpangan di jalan-jalan utama. Untungnya, tidak ada kerusakan atau kecelakaan akibat dari pemadaman sinyal ini. “Sejauh ini belum pernah ada insiden pemadaman listrik karena kotoran burung,” ujar juru bicara Chubu Electric.

Kini mereka tengah menyiapkan kabel baru yang lebih kuat, terutama dari “ancaman” kotoran burung. Selama ini, mitos yang berkembang di masyarakat menyatakan, kejatuhan kotoran burung bisa memberikan keberuntungan. Namun tampaknya mitos ini sudah terpatahkan sekarang.

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Aksi Pencurian Terbentur Pagar

Gudang Burung - Seorang dari dua pelaku pencuri burung diringkus petugas Polsek Gayamsari, Semarang, Jumat (20/9). Sebelum digelandang ke Mapolsek Gayamsari, pelaku tersebut berhasil diamankan warga setelah terjatuh dari motor saat pelariannya.Pel...

Baca selengkapnya dijamin seru! »
Pasang Iklan anda. Hubungi SMS 087888327888