Loading...
Pengetahuan

Kontes burung dianggap sebagai penyebab berkurangnya burung endemik

murai batuKontes burung Indonesia dianggap berpengaruh dalam berkurangnya burung-burung berkicau endemik di Indonesia. Diharapkan ada regulasi terkait lomba burung berkicau, untuk mempertahankan keberadaan burung-burung berkicau di alam liar.

Hal itu mengemuka dalam diskusi Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi) di Safari Lodge, Taman Safari Indonesia, Cisarua, Jawa Barat.

Indonesia mempunyai banyak jenis burung berkicau dari setiap endemik Indonesia. Namun masyarakat masih sangat menyukai lomba-lomba burung berkicau.

Salah satu pengamat burung berkicau, Berto mengatakan, perlombaan kicau burung saat ini sudah dilakukan setiap hari dengan nilai tinggi. Dan ia juga melihat, saat ini ada pergeseran lomba burung berkicau dengan menggunakan burung biasa.

“Kontes burung bukan lagi burung bersuara merdu. Saat ini sudah menggunakan Burung Gereja, Burung Pelatuk, Raja Udang, yang secara dipaksa untuk dikontes,” kata dia.
Endang Budi Utami dari Perhimpunan Burung Indonesia (PBI) menjelaskan, memelihara burung berkicau (songbird) telah dilakukan masyakarat sejak lama dan jumlahnya terus berkembang. Indikatornya, kegiatan lomba atau kontes berkicau makin banyak digelar di berbagai daerah.

Pada 1998, PBI menemukan kontes burung membuat jumlah populasi burung di alam liar berkurang, termasuk burung-burung asli Indonesia, seperti Curig Bali (sturnus meianopterus), Poksai Kuda (garrulax rufifrons), dan Ekek Geling (garrulax leucolophus).
Endang menyarankan, sebaiknya penangkaran burung-burung berkicau dapat diperbanyak, sehingga dapat mempertahankan populasinya.

Sementara Koordinator Foksi Tony Sumampau menjelaskan, dari sisi nilai ekonomi, perlombaan burung berkicau dapat mencapai Rp 3,3 triliun per tahun.

“Harus ada regulasi yang bagus untuk membatasi perlombaan jenis-jenis burung berkicau, termasuk juga aturan main terkait perburuan burung berkicau di alam liar,” kata dia.
Tony menambahkan, nantinya bisa diusulkan regulasi terkait kelestarian burung berkicau dalam penangkaran burung oleh pemerintah. Diskusi ini juga dihadiri perwakilan dari Kementerian Kehutanan, pemerhati burung, dan para penangkar burung.

About the author

Siti Nuraini

Menjalani hidup tanpa kesenangan seolah berlayar ditengah lautan luas tanpa kawan, tanpa harapan mau berlabuh dimana. Burung yang imut bersuara merdu bisa mewarnai kehidupan kita. Saya ingin menjadi sahabat anda pecinta burung kicauan di seluruh dunia. Pesan saya hanya satu, sayangi dan lestarikan satwa indah ini. Salam Kicau!

Leave a Comment