Home / 2013 / October (page 2)

Monthly Archives: October 2013

Jarwo Ditangkap Lantaran Curi 9 Parkit


Bersamaan dengan penangkapan pelaku pembobolan counter telepon seluler di Tawangmangu, Kepolisian Resor Karanganyar juga menangkap seorang pelaku pencurian sembilan ekor burung parkit senilai Rp. 800 ribu, Jarwo (37), warga Dukuh Sawahan, Desa Banjarharjo, Kecamatan Kebakkramat, Karanganyar. Pelaku ditangkap saat pulang ke rumah orang tuanya setelah sempat melarikan diri ke Jakarta beberapa bulan silam.
Gudang BurungJarwo yang seorang pengangguran mengaku terdesak kebutuhan hidup sehingga tega mencuri di rumah tetangganya sendiri. Dirinya langsung menjual hasil curiannya tersebut kepada temannya pedagang burung,

“ Burung parkit itu langsung saya jual ke teman saya, laku Rp 800 ribu ,” katanya, Senin (21/10).
Kasubbag Humas Polres Karanganyar AKP Didik Noer Tjahyo mengatakan, pelaku yang masih tetangga korban diduga telah mengetahui seluk beluk daerah tersebut. Hal tersebut diketahui saat pelaku tahu kapan korban bepergian sehingga dengan leluasa pelaku mengambil burung milik korban. Saat rumah korban dalam keadaan sepi, pelaku langsung beraksi mengambil sembilan burung parkit. Setelah beraksi, pelaku melarikan diri ke Jakarta menghilangkan jejak. Namun akhirnya berhasil ditangkap petugas saat berada di rumahnya.
“Pelaku kami tangkap saat pulang ke rumahnya setelah pergi ke Jakarta untuk menghilangkan jejak beberapa bulan,” katanya.
AKP Didik Noer Tjahyo menambahkan, atas perbuatannya, Jarwo dikenai pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan, dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, saat ini para tersangka meringkuk di tahanan Polres Karanganyar.
“Kita kenai dengan pasal 363 KUHP tentan pencurian dengan pemberatan ancaman hukumannya lima tahun,” pungkasnya.

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Terkikisnya Hutan Sumba Juga Mengikis Keberadaan Julang Sumba


Gudang BurungKondisi hutan primer di di Pulau Sumba, NusaTenggara Timur kini semakin berkurang. Data Dirjen Planologi Kehutanan tahun 2009 silam menyatakan bahwa hutan primer hanya tersisa sekitar 4,5% dari keseluruhan daratan. Sementara, ketika pertama kali dipetakan tahun 1927 silam, hutan primer di kawasan ini tahun 1927, wilayah hutan primer mencapai 55%.

Sebagai salah satu kawasan utama burung endemik kawasan Wallacea, hal ini memberi dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup berbagai jenis burung di pulau ini. Jenis paruh bengkok atau kelompok burung yang masuk dalam keluarga Psittacidae misalnya, pergerakannya menjadi semakin sempit karena habitatnya mengecil. Sebut saja perkici pelangi (Trichoglossus haematodus fortis), kakatua sumba, nuri bayan (Eclectus roratus cornelia), nuri pipi-merah (Geoffroyus geoffroyi floresianus) dan betet-kelapa paruh-besar (Tanygnathus megalorynchos sumbensis).
Hal serupa juga terjadi dengan gemak sumba (Turnix everetti), yang sudah tentu endemik Sumba. Hidup burung berbulu punggung merah-karat dan putih ini terancam akibat habitat alaminya berupa semak dan padang rumput terbakar.
Terkait hal ini, salah satu lembaga yang bergerak di bidang pelestarian berbagai jenis burung di tanah air, Burung Indonesia menempatkan Sumba sebagai salah satu lokasi utama proyek kerja mereka. “Sumba merupakan daerah yang sangat penting bagi burung. Burung Indonesia telah bergiat di Sumba sejak 1992” ungkap Ani Mardiastuti, Ketua Dewan Burung Indonesia, pada acara Merayakan Keragaman Burung di Indonesia, di Anakalang, Sumba Tengah tanggal 18 Oktober 2013 silam dalam rilis mereka.
Ani menjelaskan, kegiatan pelestarian burung kakatua sumba, penyelesaian tata batas seluruh desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Manupeu Tanadaru, dan kurikulum muatan lokal “Hutan dan Burung di Pulau Sumba” merupakan wujud nyata kerja Burung Indonesia di Sumba. “Dukungan masyarakat Sumba dan seluruh masyarakat Indonesia sangat dibutuhkan dalam upaya pelestarian seluruh jenis burung dan habitatnya di Indonesia” jelas Ani.
Pulau Sumba adalah salah satu dari 23 Daerah Burung Endemik di Indonesia. Sumba juga memiliki enam Daerah Penting bagi Burung (DPB) yang dua diantaranya berstatus taman nasional: Taman Nasional Laiwangi Wanggameti dan Taman Nasional Manupeu Tanadaru. Sementara, empat DPB lainnya berstatus hutan lindung.
Laporan White & Bruce (1986) menyebutkan, sejarah eksplorasi ortnithologi di Sumba telah dimulai akhir abad ke-19 kala H.F.C. Ten Kate (1891-1892) mengunjungi Sumba dan beberapa pulau lain di Nusa Tenggara. Tak lama kemudian, tahun 1896, A.H. Everett yang menjenguk pulau ini.
Eksplorasi ini dilanjutkan oleh K.W. Dammerman tahun 1925. Kemudian G.H.W. Stein pada 1932, dan E.R. Sutter yang mengadakan ekspedisi khusus pada 1949. Terakhir, catatan White & Bruce mengungkapkan bahwa eksplorasi dilakukan oleh Food and Agriculture Organization (FAO)/United Nations Development Programme (UNDP) tahun 1979.
Sementara, informasi berupa catatan hasil kunjungan ke Sumba mulai ada pada dekade 1980-an. Umumnya berupa kegiatan di daerah Lewa, Luku Melolo, Panapa, Manupeu, maupun daerah-daerah pesisir pulau. Penelitian jenis tunggal seperti julang sumba (Aceros everetti) atau kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) mulai intensif dilakukan di penghujung 90-an. Tak ayal, keunikan burung yang ada di Sumba ini, membuat para pengamat burung dunia ingin langsung melihatnya.

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Syahrini Pakai Kostum Dari Bulu Burung Rontok

Gudang Burung - Syahrini mengaku telah dibayar mahal untuk konser tunggal di Marina Bay, Singapura, beberapa waktu lalu. Karena itu, dia rela mengenakan pakaian dengan harga selangit."Pemilihan baju pun karena dibayar cukup mahal. Aku pakai d...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Ada Apa Gagak Dengan Meninggalnya Jamaah Haji?

Gudang Burung - Seorang jemaah haji Indonesia meninggal setelah mendaki Jabal Nur. Menurut kabar yang beredar, kepala jemaah itu dipatuk burung gagak sebelum ia meninggal. Hal ini dilaporkan Antara, Senin, 21 Oktober 2013. Memang, di Mekah, k...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Migrasi Burung Ganggu Ketenangan di Queensland

Gudang Burung - Pemandangan ribuan burung merpati di kota-kota besar, khususnya tempat wisata, cukup umum. Tapi bila burung kakatua dan galah yang habitatnya di hutan datang ke kota, bisa menimbulkan kerugian besar.Ribuan burung tersebut telah ber...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Sedikit Cerita Dari Taman Burung Yogyakarta


Gudang BurungLiburan Lebaran bersama keluarga di Yogyakarta belum lengkap tanpa mengunjungi Gembira Loka Zoo (GLZoo). Pasalnya menjelang hari Raya Idul Fitri, GLZoo membuka wahana baru berupa taman burung. Di tempat ini pengunjung dapat berinteraksi dengan burung-burung jinak.
 
Direktur Utama GLZoo KMT A.Tirtodiprojo menjelaskan, taman burung yang baru dibuka itu dibangun di atas  tanah 4500 m2. Pengerjaan dilakukan sejak awal Oktober 2012. Joko, demikian Tirtodiprojo biasa disapa, menambahkan, untuk melengkapi koleksi burung pihaknya mengeluarkan anggaran Rp1,5 miliar.
 
Taman burung ini berisi 31 kandang. Di dalamnya terdapat sekitar 350 burung dari 64 jenis burung. Lokasinya dibagi dalam sembilan area, yakni area flamingo, elang, kandang bentuk kubah, tempat interaksi Lory, paruh bengkok, cendrawasih, kolam terbuka, kandang pecuk hitam, dan penguin.
 
"Di taman burung ini ada yang unik, khususnya di area kubah. Di situ ada bermacam jenis burung berkicau yang dibiarkan bebas berinteraksi dengan pengunjung,” jelasnya.
 
Sedangkan di area Lory Kingdom, kata Joko, burung-burung cantik ini juga dibiarkan bebas terbang di kandang seluas 200 meter persegi. Pengunjung bisa lebih mengenal lebih dekat jenis burung blue-streaked, violet-necked dan rainbow yang dikenal sebagai burung warna-warni. 
 
Tak hanya burung, Anda juga bisa menemukan keluarga unggas lainnya seperti angsa dan bebek mandarin yang dilepas di kolam. Dan satu lagi, taman burung ini juga bekerjasama dengan Singapura Zoo untuk mendatangkan Pinguin Afrika atau Jacksss Penguin.
 
"Kedatangan penguin masih menunggu proses karantina di Singapura. Rencana pada September mendatang sudah bisa dinikmati pengunjung," katanya.

Selain itu, burung flamingo, spoon bill, scarlet ibis, grey crown crane, juga disebut akan melengkapi koleksi taman burung ini.

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Jeholornis, SI Burung Berekor Dua

Jeholornis, SI Burung Berekor Dua 1


Gudang BurungTim paleontologi dari Chinese Academy of Sciences, di Beijing, China, mengungkapkan bahwa 120 juta tahun lalu burung memiliki dua ekor. Temuan ini membuat jalur evolusi yang rumit dari spesies burung. Melansir Fox News, 16 Oktober 2013, hal itu diketahui dari fosil burung purba Jeholornis. Habitatnya di China bersama hewan pra-sejarah lainnya. 

Dari temuan fosil, Jeholornis merupakan burung berukuran lebih besar dari kalkun, memiliki cakar pada sayap-sayapnya, dan terdapat tiga gigi kecil di bagian rahang bawah.

Uniknya, para ahli paleontologi juga menemukan Jeholornis jantan mempunyai ekor yang panjang dan berjumlah dua. Belum diketahui apa fungsi dari dua ekor itu, apakah sebagai pendukung terbang atau hanya berfungsi untuk memikat lawan jenisnya.

"Dua ekor yang ditemukan pada burung Jeholornis sangat mengherankan. Ini merupakan jalur evolusi baru untuk hewan spesies burung," kata Jingmai O'Connor, Pemimpin Penelitian dari Chinese Academy of Sciences.

O’Connor menambahkan, tim peneliti memprediksi fungsi dari salah satu ekor hanya untuk menarik lawan jenisnya. Mengingat satu ekor berukuran panjang dan satu ekor lagi berukuran pendek, mirip ekor burung merak.




"Fungsi salah satu ekor yang dipenuhi bulu-bulu berwarna-warni sepertinya mirip dengan fitur yang ada pada burung merak, yaitu untuk memikat perhatian lawan jenisnya," ujar O’Connor.

Namun, menurut Julia Clarke, ahli paleontologi dari University of Texas, AS, fungsi dari dua ekor adalah untuk menciptakan stabilitas terbang. 

Sebagian menyimpulkan, salah satu ekor itu sepertinya tidak mempunyai fungsi tertentu dan berevolusi menjadi satu ekor saja pada burung-burung modern.

"Bentuk dua ekor itu adalah sebuah jalur evolusi pada spesies burung. Tapi, temuan dua ekor pada burung Jeholornis adalah aneh dan ganjil," tutup Clarke.

Hasil penelitian sudah diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul "Unique caudal plumage of Jeholornis and complex tail evolution in early birds."

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Usir Burung dengan Sinar Laser

Gudang Burung - Setiap tahun para petani di Australia menghadapi serangan dari burung-burung pemangsa hasil panen. Namun, seorang petani mangga dari Northern Territory memiliki ide unik untuk menjaga buah-buah mangga yang sudah ranum dari incaran ...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Tembus Pasar ASEAN Setelah Nyaris Bangkrut


Gudang Burung Nyaris gulung tikar akibat dari maraknya unggas khusus jenis burung kicau akibat flu burung yang melanda Indonesia maupun dunia internasional, kini pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali bergairah untuk memproduksi sangkar burung jenis kicau.

Di Dusun Botokan ini hampir separuh penduduknya yang berjumlah sekitar 200 kepala keluarga menggantungkan hidupnya dari produksi sangkar burung kicau. Dari sekitar 200 kepala keluarga itu mereka bekerja secara berkelompok antara 5 hingga 10 orang dalam satu kelompok pengrajin sangkar burung kicau.

Meski sudah berupaya untuk menggenjot produksi sangkar burung, dengan asumsi setiap pengrajin dalam dua hari dapat menyelesaikan satu sangkar burung belum termasuk prosesfinishing-nya, kelompok pengrajin sangkar burung ini belum mampu untuk memenuhi permintaan dari pemesan.

“Kita bahkan sering mendapatkan titipan uang terlebih dahulu dari pembeli meski sangkar burung yang dipesannya belum jadi,” kata Sugito, salah seorang pengrajin sangkar burung kicau di Dusun Botokan, Desa Argodadi, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DIY, Selasa, 12 Maret 2013

Sugito menceritakan, kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan turun-temurunan dari nenek moyang yang tinggal di Dusun Botokan dan diteruskan oleh keturunannya. Sehingga banyak masyarakat di Dusun Botokan ini tidak perlu lagi belajar jauh-jauh untuk merangkai sebuah sangkar burung kicau.

“Kerajinan sangkar burung kicau ini merupakan warisan dari nenek moyang sehingga tidak perlu jauh-jauh untuk belajar membuat sebuah sangkar burung kicau,” tandasnya

Sebelum tahun 1990, kata Sugito, bahan baku yang digunakan oleh para perajin sangkat burung kicau berasal dari rotan, namun karena bahan baku rotan semakin sulit didapatkan dan harganya juga mulai tidak terjangkau lagi oleh pengrajin, maka setelah tahun 1990-an, bahan baku yang digunakan untuk membuat sangkar burung kicau beralih ke bambu.

“Bahan baku bambu mudah diperoleh di sekitar kampung dan harganya relatif murah dan lebih tahan lama dibandingkan dengan bahan baku dari rotan,” paparnya

Ayah dari 3 anak ini mengaku pasar dari sangkar burung yang dipesan oleh pembeli tidak saja dikota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan kota-kota besar di luar Jawa, namun demikian ada juga pesanan sangkar burung kicau ini yang dijual hingga Negara Thailand.

“Untuk harga sangkar burung kicau yang standar berkisar antara Rp50.000 hingga Rp250.000, namun demikian untuk sangkar burung kicau yang istimewa atau dilengkapi dengan hiasan pada sangkar burungnya, harganya bisa mencapai R p.500.000,” tandasnya

Anggraito salah seorang pengrajin sangkar burung yang lainnya mengatakan, agar sangkar burung bertahan lama, maka bahan utama yaitu bambu terlebih dahulu dipotong-potong sesuai dengan ukuran dan kebutuhan. Selanjutnya bambu yang telah dipotong dibelah dan direndam dalam air dalam beberapa hari. 

Setelah itu, belahan bambu yang direndam dalam air diangkat dan dikeringkan. Selanjutnya belahan bambu itu diproses atau dibuat menjadi batangan bambu dengan ukuran sebesar lidi untuk pembuatan jeruji sangkar dan juga sebagian bahan bambu dibuat untuk kerangka sangkar burung kicau.

“Untuk membuat satu sangkar burung jadi belum termasuk proses finishing dibutuhkan waktu 2 hari,” katanya

Sedangkan untuk sangkar burung kicau yang istimewa dengan berbagai aksesoris dan pengecatan yang rumit, maka untuk membuat 2 hingga 3 sangkar burung kicau istimewa dibutuhkan waktu hingga 15 hari.

“Karena pengerjaannya sangat rumit dan butuh kesabaran maka waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa sampai setengah bulan untuk 2 hingga 3 sangkar burungkicau,” tandasnya

Lebih lanjut Anggraito mengatakan, masyarakat di dusun Botokan ini tetap mempertahakan kerajinan pembuatan sangkar burung ini dengan cara tradisional dan bukannya menggunakan alat pabrikan. Masyarakat lebih percaya dengan alat tradisional ini akan menjaga kualitas dari sangkar yang dihasilkan dan tidak terlalu membutuhkan biaya yang mahal untuk membeli mesin.

“Kualitas sangkar burung akan ditentukan oleh kesabaran dan keuletan serta kreatifitas dari masing-masing pengrajin,” kata dia.

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Harga Lovebird Relatif Turun

Gudang Burung - Awalnya, burung lovebird dipelihara orang terutama karena keindahan warna bulunya. Namun seiring dengan perkembangan waktu dan trend lomba suara burung, maka lovebird dipelihara untuk memunculkan suara-suara khas lovebird yang panj...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Burung Mitos Dari Tanah Yunani

Gudang Burung - Stimfalia adalah burung-burung memiliki bulu dan paruh perunggu, selain itu kotoran mereka juga beracun. Mereka tinggal di danau Stimfalia di Arkadia.Tugas keenam Herakles adalah mengusir burung-burung ini. Dengan lonceng...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Cash Flow Burung Capai Rp. 7T Per Tahun di 2007

Gudang Burung _ Cobalah tebak berapa besar perputaran rupiah di dunia burung berkicau dalam setahun? Jawabnya mencapai Rp7 triliun. Itulah hasil survei Burung Indonesia bersama University of Oxford, Pelestari Burung Indonesia (PBI), AC Nielsen, Ak...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Penjara Bagi Perampok Di Afghanistan Tempo Dulu


Gudang BurungHUKUMAN penjara bagi para penjahat atau perampok itu sudah lumrah. Namun bagaimana jika penjara bagi para tahanan dibuat menggantung seperti sangkar burung dan bisa dilihat publik? Tentu akan sangat aneh.

Pada era 1900-an, di masa pemerintahan Abdur Rahman, jalanan Kabul-Jalalabad-Peshawar yang menghubungkan antara Afghanistan-Pakistan rawan dengan aksi perampokan.

Agar menimbulkan efek jera dan malu, para perampok ini dipenjara dengan kurungan yang amat unik. Ketika perampok tertangkap oleh penjaga keamanan, mereka dimasukkan dalam sangkar besi dan digantung di atas tiang seperti seekor burung. Tak sampai di situ, ‘sangkar manusia’ inipun di tempatkan di sepanjang jalan yang merupakan sepenggal bagian dari Jalan Sutra yang terkenal saat itu.

Mereka digantung sehingga kawanan mereka tidak bisa memberi makanan sampai akhirnya mati kelaparan. Salah satu foto penjara gantung ini pertama kali dimuat dalam majalah National Geographic tahun 1921, dengan sebutan “Man Cage.” 

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Menjadikan Gereja Sebagai Masteran

Gudang Burung - Kali ini saya akan share tentang  Cara Merawat Burung Gereja Agar Jadi Master Burung. Burung gereja pada musim ini memang  sedang trend popularitas harga dan pasaran nya.Banyak para master kicau burung berm...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Taman Burung di Jakarta Barat

Gudang Burung - Koleksi burung yang ada di sini merupakan yang terlengkap di Indonesia, terdiri atas 312 jenis dengan jumlah mencapai ribuan ekor, baik yang berasal dari Indonesia Bagian Barat maupun Indonesia Bagian Timur, di samping sebagian dar...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Gaun Berbalut Bulu Burung Unta Dibandrol Rp. 150 Juta Oleh Gucci

Gudang Burung - Di ajang fashion show beberapa waktu lalu,brand fashion raksasa, Gucci, merilis koleksi terbaru mereka. Yang salah satunya menjadi sangat disukai dan laris di kalangan selebritis.Sebuah gaun cantik yang dihiasi bulu-bulu nan s...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

!4 Jenis Burung Hantu di Indonesia

!4 Jenis Burung Hantu di Indonesia 20

Gudang Burung - Burung hantu merupakan burung pemangsa yang aktif berburu dimalam hari. Namun tahukah anda kalau ternyata ada sekitar 222 jenis burung hantu yang hidup di dunia ini??? Apa saja jenis-jenis burung hantu tersebut? Berikut a...

Baca selengkapnya dijamin seru! »

Rüppell’s Vulture ( Rüppell’s Griffon Vulture )



Gudang Burung - Rüppell's Vulture atau Rüppell's Griffon Vulture merupakan spesies burung pemakan bangkai berbadan besar yang hidup di wilayah Sahel, Afrika Tengah. Burung  langka yang memiliki nama latin Gyps rueppellii ini dikenal juga dengan nama Rüppell's Griffon, Rueppell's Griffon, Rüppell's Griffin Vulture, Rueppell's Vulture dan masih ada lagi yang lainnya.

Nama "Rüppell" sendiri diberikan kepada burung ini sebagai suatu bentuk penghargaan terhadap Eduard Rüppell, seorang petualang abad ke-19 yang berasal dari Jerman yang juga merupakan seorang kolektor, danzoologist.

Burung Rüppell's Vulture dikenal sebagai burung yang mampu terbang paling tinggi di dunia. Menurut data, burung pemakan bangkai ini mampu terbang hingga menembus ketinggian 11.000 m di atas permukaan air laut.

Burung dewasa memiliki panjang tubuh sekitar 85 hingga 103 cm dengan rentang sayap sekitar 2,26 - 2,6 m, serta berat badan mencapai 6,4 hingga 9 kg. Burung jantan dan betina memiliki penampilan yang serupa yaitu memiliki tutul-tutul cokelat atau hitam di seluruh bulunya dengan bagian perut berwarna cokelat pucat. Sedangkan bagian kepala dan leher berwarna putih kotor.

Burung ini merupakan burung yang sangat sosial. Mereka biasa bertengger, bersarang, dan makan bersama dalam sebuah kawanan besar. Burung jenis ini dapat terbang hingga kecepatan 35 km/jam dan biasanya mereka terbang hingga sejauh 150 km dari sarang mereka untuk mencari makanan.


Rüppell's Vulture memiliki hemoglobin spesial dalam darahnya yaituhemoglobin alphaD, yang memungkinkan mereka untuk memanfaatkan oksigen secara efisien meskipun mereka tengah terbang dalam tekanan tinggi di lapisan troposphere bumi. Karena jangkauan terbangnya yang sangat tinggi, pernah terjadi suatu kasus dimana burung ini tertelan ke mesin pesawat jet yang tengah terbang di atas Abidjan, Côte d'Ivoire pada tanggal 29 November1973.

Habitat burung Rüppell's Vulture adalah di daerah kering dan pegunungan di Afrika, seperti di daerah semi-gurun atau daerah pinggiran gurun. Mereka memiliki penglihatan yang sangat tajam untuk menemukan bangkai hewan besar atau seekor hewan pemangsa yang tengah beraksi. 

Mereka akan menunggu hingga beberapa hari hingga sang karnivora pergi meninggalkan sisa mangsanya. Sebenarnya burung ini juga terkadang menangkap mangsanya sendiri, tetapi itu sangat jarang.

Bisa dibilang burung ini cukup rakus dalam makanan. Mereka akan memakan daging, jeroan, kulit, bahkan tulangnya hingga mereka nyaris tidak kuat terbang lagi karena kekenyangan. Namun, meskipun tubuh mereka tergolong besar, mereka bukanlah pemangsa dominan, karena masih ada burung pemakan bangkai yang lebih besar lagi dari mereka di habitat mereka.

Diperkirakan populasi burung Rüppell's Vulture saat ini tidak lebih dari 30.000 ekor di alam liar. Selain itu, populasi mereka pun semakin menurun setiap tahunnya. Salah satu penyebab utamanya adalah berkurangnya habitat.

Sejak tahun 2012, Red List IUCN menetapkan bahwa populasi burung Rüppell's Vulture berada pada status "Rentan (VU)".

Baca selengkapnya dijamin seru! »
Pasang Iklan anda. Hubungi SMS 087888327888