Gudang Burung – Sebuah rumah lelang menjual tulang burung dodo untuk pertama kalinya dalam 80 tahun. Tulang yang dilelang adalah bagian kaki dan panggul dari burung yang punah pada pertengahan abad ke-17. Pelelangan rangka dodo yang lengkap d…


Gudang Burung – Tim paleontologi dari Chinese Academy of Sciences, di Beijing, China, mengungkapkan bahwa 120 juta tahun lalu burung memiliki dua ekor. Temuan ini membuat jalur evolusi yang rumit dari spesies burung. Melansir Fox News, 16 Oktober 2013, hal itu diketahui dari fosil burung purba Jeholornis. Habitatnya di China bersama hewan pra-sejarah lainnya. 

Dari temuan fosil, Jeholornis merupakan burung berukuran lebih besar dari kalkun, memiliki cakar pada sayap-sayapnya, dan terdapat tiga gigi kecil di bagian rahang bawah.

Uniknya, para ahli paleontologi juga menemukan Jeholornis jantan mempunyai ekor yang panjang dan berjumlah dua. Belum diketahui apa fungsi dari dua ekor itu, apakah sebagai pendukung terbang atau hanya berfungsi untuk memikat lawan jenisnya.

“Dua ekor yang ditemukan pada burung Jeholornis sangat mengherankan. Ini merupakan jalur evolusi baru untuk hewan spesies burung,” kata Jingmai O’Connor, Pemimpin Penelitian dari Chinese Academy of Sciences.

O’Connor menambahkan, tim peneliti memprediksi fungsi dari salah satu ekor hanya untuk menarik lawan jenisnya. Mengingat satu ekor berukuran panjang dan satu ekor lagi berukuran pendek, mirip ekor burung merak.


“Fungsi salah satu ekor yang dipenuhi bulu-bulu berwarna-warni sepertinya mirip dengan fitur yang ada pada burung merak, yaitu untuk memikat perhatian lawan jenisnya,” ujar O’Connor.

Namun, menurut Julia Clarke, ahli paleontologi dari University of Texas, AS, fungsi dari dua ekor adalah untuk menciptakan stabilitas terbang. 

Sebagian menyimpulkan, salah satu ekor itu sepertinya tidak mempunyai fungsi tertentu dan berevolusi menjadi satu ekor saja pada burung-burung modern.

“Bentuk dua ekor itu adalah sebuah jalur evolusi pada spesies burung. Tapi, temuan dua ekor pada burung Jeholornis adalah aneh dan ganjil,” tutup Clarke.

Hasil penelitian sudah diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences dengan judul “Unique caudal plumage of Jeholornis and complex tail evolution in early birds.”

Gudang Burung – Moa masuk ke dalam kelas Aves (burung), memiliki tinggi tubuh hingga 3,5 meter dan berat lebih dari 200 kilogram. Ilmuwan mengungkap, hewan raksasa yang tidak dapat terbang asli dari Selandia Baru ini telah punah.Dilansir Abc,…

Gudang Burung – Burung ‘teror’ raksasa prasejarah, yang pernah terpikir sebagai predator kejam yang mampu mematahkan leher mamalia dengan paruhnya besarnya, benar-benar seekor vegetarian (pemakan sayur dan buah), menurut sebuah studi baru.

Hewan gastornis setinggi dua meter ini merupakan makhluk terbang yang hidup di Eropa antara 40 dan 55 juta tahun yang lalu.Karena ukuran dan penampilannya, burung ini dianggap sebagai karnivora puncak, seperti diketahui dalam sebuah konferensi Goldschmidt di Florence.

Namun kini tim peneliti Jerman, yang mempelajari sisa-sisa fosil dari binatang-binatang yang ditemukan di bekas tambang batubara terbuka, mengatakan burung-burung ini dipercaya benar-benar bukan pemakan daging.
Dr Thomas Tütken dari Universitas Bonn mengatakan: “Burung teror dianggap telah menggunakan paruhnya yang besar untuk menangkap dan mematahkan leher mangsanya, yang didukung oleh model biomekanik kekuatan gigitannya.”
Tetapi baru-baru ini penelitian telah meragukan reputasi menakutkan burung purba ini. Paleontologis di AS menemukan jejak kaki yang diyakini milik sepupu gastornis dari Amerika, dan tidak menunjukkan jejak cakar yang tajam yang digunakan untuk bergulat mangsa, yang mungkin diharapkan dari seekor raptor.
Juga, ukuran tipis burung dan ketidakmampuan untuk bergerak cepat membuat beberapa pakar percaya itu tidak bisa memangsa mamalia awal.
Dr Tütken dan rekan-rekannya, seperti diberitakan Mail Online, mengambil pendekatan baru untuk menentukan diet gastornis, dan dengan menganalisis komposisi isotop kalsium dalam tulang fosil, mereka mampu mengidentifikasi apa proporsi diet makhluk itu tanaman atau hewan, dan posisinya dalam rantai makanan.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa komposisi isotop kalsium dari tulang burung teror mirip dengan mamalia herbivora dan dinosaurus dan bukan yang karnivora. Namun para peneliti perlu cross check data menggunakan kumpulan fosil lain sebelum mengkonfirmasi temuan mereka.

(ilustrasi) Gudang Burung – Perdebatan soal pendapat bahwa Archaeopteryx merupakan hewan peralihan antara dinosaurus dan burung sudah berlangsung lebih dari 150 tahun. Kini, para ilmuwan menemukan bukti baru tentang hewan purba ini.Para ilmuw…