Penyelundupan terhadap burung langka kian marak, namun kali ini peristiwa penyelundupan yang cukup nyeleneh terjadi di Kuba, ketika seorang pria tertangkap oleh petugas bandara sebelum naik pesawat tujuan Amerika dengan membawa 66 ekor burung kecil yan…

Jika ada spesies burung yang disebut-sebut menjadi inspirasi dari lambang negara Indonesia maka elang jawa (Nisaetus bartelsi)  atau javan hawk-eagle merupakan sosok paling meyakinkan dari Sang Garuda. Sosoknya yang gagah dengan jambul panjang di bagian belakang kepala membuat elang jawa kerap diidentikkan dengan garuda. Dalam Kitab Adiparwa diceritakan bahwa garuda merupakan burung gagah berani yang dijadikan kendaraan sekaligus lambang panji-janji Dewa Wisnu.

Burung ini berdiam di surga, setelah misinya membebaskan ibunya dari perbudakan para naga selesai. Dalam cerita budaya Indonesia, garuda diperkirakan mulai menjadi mitologi sejak abad ke-10 Masehi. Sedangkan Presiden Soekarno memperkenalkan pertama kalinya kepada khalayak sebagai lambang negara pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.Dalam buku “Bung Hatta Menjawab” diungkapkan bahwa awal terpilihnya garuda sebagai lambang negara dilakukan melalui sayembara. Kala itu, terpilih dua karya terbaik dari Sultan Hamid II dan Mohammad Yamin. Namun pada akhirnya, Pemerintah dan DPR memilih karya Sultan Hamid II.

Meski telah terpilih, sketsa garuda karya Sultan Hamid II terus disempurnakan. Bersama Soekarno dan Mohammad Hatta, pita merah yang awalnya dicengkeram garuda diganti dengan putih dan ditambahkan kata ”Bhinneka Tunggal Ika”.
AG Pringgodigdo dalam buku ”Sekitar Pancasila” menyebutkan bahwa rancangan Sultan Hamid II akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam Sidang Kabinet RIS pada 11 Februari 1950. Selanjutnya, Soekarno memperkenalkan kepada khalayak pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes Jakarta.

Berbeda dengan Kenyataannya

Namun, berbeda dengan Garuda yang disanjung-sanjung dan menjadi lambang negara, nasib elang jawa justru miris. Burung endemis Jawa ini masuk dalam kategori terancam punah dengan status Genting (Endangered).  Menurut data BirdLife International saat ini populasi elang jawa di alam diperkirakan hanya tersisa sekitar 300 – 500 individu dewasa.

“Salah satu penyebabnya adalah makin menyusutnya luasan hutan alami di Jawa,” ujar Jihad, Bird Conservation Officer Burung Indonesia. Sebagai pulau dengan populasi penduduk terpadat di dunia, kebutuhan lahan untuk permukiman dan pertanian makin meningkat dari tahun ke tahun. Akibatnya, banyak hutan yang dibuka dan dialihfungsikan menjadi lahan pertanian maupun permukiman. Saat ini, hutan alami yang tersisa di Jawa diperkirakan hanya tersisa sepuluh persen.

Alihfungsi hutan itu membuat anggota suku Accipitridae ini terdesak dan sebagian besar hanya tersisa di hutan-hutan pegunungan. Maklum, elang berbulu dominan cokelat gelap itu sangat tergantung dengan keberadaan hutan, baik hutan alami maupun daerah berhutan terbuka yang dekat dengan hutan primer.

“Elang jawa juga memanfaatkan hutan sekunder untuk berburu ” tutur Jihad. Burung pemangsa ini biasanya berburu dengan terbang di dekat kanopi pohon atau bertengger di pohon dan menunggu mangsa yang lewat.

Tak hanya habitatnya yang dirusak, elang jawa juga kerap ditangkap dan diperjualbelikan sebagai satwa peliharaan. Padahal elang jawa merupakan burung yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta diperkuat lewat Kepres No. 4/1993 Tentang Satwa dan Bunga Nasional. Jenis ini juga termasuk salah satu dari 14 satwa prioritas untuk diselamatkan berdasar SK Dirjen PHKA Nomor 132/2011.

Jika perdagangan dan alih fungsi hutan tidak dihentikan, maka bukan tidak mungkin suatu saat nanti elang jawa hanya dapat dilihat dalam bentuk gambar atau foto atau hanya dikenang sebagai burung yang identik dengan simbol negara, Garuda.

Sumber: Mongabay.co.id

Pelepasan burung oleh Pemkot Bogor

Sebanyak 532 burung berbagai jenis di lepas di area Kebun Raya Bogor, Kamis (5/6/2014).  Kegiatan memperingati Hari Lingkungan Hidup dan rangkaian memperingati Hari Jadi Bogor (HJB) ke 532 digagas  KNPI Kota Bogor bekerjasama dengan Pemerintan Kota Bogor.

 

Pelepasan Burung tersebut dilakukan oleh Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto  diikuti Kepala Dinas Pendidikan Fetty Qondarsyah, Kepala Dinas Pendistrian dan Perdagangan Bambang Budianto, Asisten Tata Praja Sekretariat Kota Bogor Edgar Suratman selaku Ketua Panitia HJB ke 532,  serta Ketua Ketua KNPI Kota Bogor Hasbullah.

Sebelum pelepasan burung diawali Long March mulai dari sekretariat KNPI di GOR Pajajaran menuju Kebun Raya Bogor yang diikuti ratusan pelajar SMA dan SMK se Kota Bogor. Hujan gerimis yang memayungi pelajar selama perjalanan tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus berjalan menuju Kebun Raya.

Pada kesempatan tersebut para pelajar menyampaikan 5 petisi yang intinya mengharapkan pemerintah Kota Bogor harus memperhatikan lingkungan agar Kota Bogor lebih sejuk, segar dan nyaman.

Walikota Bogor Bima Arya mengatakan pelepasan burung ini sebagai simbol keseriusan dan kepedulian  seluruh masyarakat Kota Bogor terhadap kelestarian lingkungan dan strategi pembangunan yang ramah lingkungan.  “ Ini menjadi Komitmen Pemerintah Kota Bogor untuk melestarikan lingkungan di Kota Bogor, “ tegasnya.

Sumber: Bogornews.com

Beberapa hari terakhis ini para penjual burung yang biasa berjualan di pasar burung di Kecamatan Pangkalan Banteng, Kelurahan Baru dan Raja Kecamatan Arut Selatan, Kota Pangkalan Bun sedang meradang. Lantaran beberapa waktu sebelumnya pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Pangkalan Bun melakukan razia di lokasi tersebut. Dalam razia tersebut, sekitar 45 ekor burung berbagai jenis yang dijual di bebeapa kios di pasar burung itu disita oleh petugas BKSDA.

razia burung
Pedagang burung di Pangkalan Bun yang resah karena pihak BKSDA merazia mereka tanpa sosialisasi




 Seperti dilansir Kalteng Pos, penyitaan tersebut dilakukan lantaran pihak BKSDA menuding sejumlah burung yang dijual dikios setempat merupakan burung selundupan, karena tidak memiliki dokumen lengkap saat penjualan. Akibat aksi penyitaan tersebut puluhan pedagang burung pada hari Rabu (14/5) mendatangi Kantor Bupati Kobar untuk bertemu dengan Wakil Bupati Kobar Bambabg Purwanto selaku Ketua Pecinta Burung di Kobar, agar bersedia meminta kepada pihak BKSDA supaya tidak semena-mena dalam malakukan aksi razia kepada masyarakat penjual burung di pasar setempat. 

Ketika dikonfirmasi, Wakil Bupati mengakui adanya razia terhadap sejumlah penjual burung yang dilakukan oleh anggota BKSDA Wilayaj II Pangkalan Bun. Razia tersebut dilakukan BKSDA lantaran telah diatur oleh Undang-undang yang diterbitkan oleh Pemerintah Pusat mengenai pemeliharaan dan penjualan burung, sehingga pihak BKSDA sebenarnya hanya melaksanakan undang-undang tersebut.

Namun Undang-undang tersebut masih belum disosialisasikan secara menyeluruh kepada seluruh masyarakat pecinta dan pedagang burung di Kobar. Karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahuinya. Karena itu pula, sebagai bagian dari Pemkab Kobar, pihaknya menyarankan sebelum dilakukan razia, terlebih dahulu harus gencar disosialisasikan kepada masyarakat. 

“Keterangan pihak BKSDA kepada kita, bahwa mereka telah mensosialisasikan undang-undang tersebut. Namun tidak secara menyeluruh, karena itu kita sarankan, agar melakukan sosialisasi secara menyeluruh dulu,” kata Bambang Purwanto diruang kerjanya.

Sedangkan dilain tempat, Kepala BKSDA WIlayah II Pangkalan Bun, Hartono belum bersedia memberikan jawaban ketika dicoba dihubungi oleh wartawan.

Sebanyak 500 ekor burung ciblek berhasil disita oleh Polisi Kehutanan Kota Padang pada Selasa lalu. Burung-burung ciblek tersebut rata-rata didapatkan dari hasil tangkapan liar. Burung kecil dengan suara ngebrennya yang khas itu disita di kawasan Ba…