Loading...
Liputan

Kisah Nyata Persahabatan Seorang Anak dengan Burung Jalak

Majalahkicau.com – Ternyata seekor burung bisa menjadi sahabat sejati. Seperti halnya, kisah nyata yang sangat menginspirasi antara seorang anak bernama Revo dan burung Jalak Kerbau. Keduanya dipertemukan secara tak sengaja. Namun, karena selalu bersama dalam setiap aktivitas, akhirnya burung Jalak tersebut menganggap Revo sebagai temannya sendiri.

Revo memanggil burung Jalak Kerbau tadi dengan nama Bulbul. Sebenarnya, nama burung ini Burbur, tapi karena Revo cadel, nama burung tersebut diganti menjadi Bulbul.

Setiap pagi dan sore, Bulbul selalu menemani Revo mandi. Saat Revo mandi di bak plastik, Bulbul bermain air di sangkarnya. Ini mereka lakukan rutin setiap hari sampai hubungan keduanya semakin dekat.

Kisah selengkapnya akan disampaikan sendiri oleh bundanya Revo, Ida Nur Laila dalam blog pribadinya ida-nurlaila.blogspot.co.id.

Sebenarnya sejak lama aku selalu kasihan pada burung yang dipelihara dalam sangkar. Kasihan, mereka kehilangan kebebasan. Bukankah sunnatullah-nya burung terbang bebas di alam raya. Aku sering merenungi mereka di manapun kutemukan sangkar burung yang berisi burung.

Ingat lagu yang pilu, entah siapa yang menyanyikannya duluu.

Wahai kau burung dalam sangkar
Dapatkah kau menahan siksa
Dari kekejaman dunia
Yang tak pernah menimbang rasa

Wahai kau burung dalam sangkar
Sungguh nasibmu malang benar
Tak seorangpun ambil tahu
Luka dan lara di hatimu

Batin menangis tak kuasa
Riwayat hidupmu penuh dengan cucuran air mata
Sungguh ini suatu ujian
Tetapi hendaklah kau bersabar
Sujudlah pada Tuhan.

Namun ternyata kehidupan berputar dan membawaku pada situasi saat ini.

Pada suatu hari, seekor burung tersesat di garasi rumahku.
Warnanya coklat blirik-blirik, bulunya tebal, jadi seolah ia gemuk, padahal jika dipegang hanya kecil. Ternyata ia adalah seekor anak burung gemak. Aku bimbang, kulepaskan ataukah kupelihara.

“Dipelihara saja, untuk senang-senang Revo“, usul ibuku.
Kan taat sama ortu itu baik, jadi burung itupun resmi kupelihara.
Berhubung belum punya kandang, hanya disimpan di keranjang plastik. Diberi makan beras dan minuman. Revo suka sekali menonton yang mengelusnya.

Revo memanggilnya Bulbul. Sebenarnya ia memanggil Burr…burr tapi karena cadel jadi bulbul.
Esoknya kami belikan kandang burung yang bisa digantung.
Namun sungguh malang, hari kedua kudapati pagi-pagi ia telah terkulai kaku.

Sorenya Azka, anak sulungku yang baru pulang menginap, datang membawa oleh-oleh yang mengejutkan.

“Ini aku beliin makanan untuk si Bulbul…”
Semua orang terkejut dan sedih.
“Bulbul sudah mati,” kata salah satu anakku.
“Yaah… padahal sudah kusempetin mampir beli makanan,” kata Azka menyesal.
“Nggak papa, entar kita punya burung lagi dan bisa kita kasihkan.”

Beberapa hari kandang baru itu kosong, karyawanku kasihan dan esoknya ia datang membawa seekor burung. Warnanya hitam. Paruh dan kakinya warna kuning gading. Ada sedikit warna putih di ekornya.

“Ini Jalak Kerbau yang ditangkap suamiku,” kata mbak Yuli.” Dibawa naik bus dan bayar 50.000 rupiah ke supirnya.

Baca juga: Daftar Harga Burung Kicau Terbaru di Indonesia Update Setiap Bulan

Konon Jalak ini harganya mahal. Jadi kuganti harganya senilai Rp 250.000. Jalak ini pandai menirukan suara. Setelah diajari, segera saja ia bisa memanggil Difa, anakku yang nomer 5.

“Fa difa difa e,” begitu katanya berulang-ulang.
Kadang ia tertawa ngakak, kadang menirukan suara para tukang yang mengetokkan palu.
“Tok-tok…tok-tok…”
“Teng…teng..teng…teng…” sambil bulunya mengembang untuk mengeluarkan semua energi suaranya.

Kami segera jatuh cinta dan akrab dengan Bulbul edisi ke dua ini. Karena kandang yang kurang besar, maka mbak Yuli, asisten rumah tanggaku menghibahkan kandang untuk Bulbul. Kami belikan tempat minum, tempat makan yang bagus dan makanan yang sesuai.

Setiap pagi dan sore, Bulbul menemani Revo mandi. Saat Revo dimandikan, kandang Bulbul juga dibersihkan. Jadilah, itu aktivitas rutin mereka. Revo mandi di bak plastik dan Bulbul bermain air di kandangnya.

Revo selalu mandi di dekat Bulbul (ida-nurlaila.blogspot.co.id)
Revo selalu mandi di dekat Bulbul (ida-nurlaila.blogspot.co.id)

” data-image-title=”Revo selalu mandi di dekat Bulbul (ida-nurlaila.blogspot.co.id)” data-image-meta='{“aperture”:”0″,”credit”:””,”camera”:””,”caption”:””,”created_timestamp”:”0″,”copyright”:””,”focal_length”:”0″,”iso”:”0″,”shutter_speed”:”0″,”title”:””,”orientation”:”1″}’ data-comments-opened=”1″ data-orig-size=”1024,742″ data-orig-file=”https://i0.wp.com/burungnya.com/wp-content/uploads/2017/01/Revo-selalu-mandi-di-dekat-Bulbul-ida-nurlaila.blogspot.co_.id_.jpg?fit=1024%2C742″ data-permalink=”http://burungnya.com/kisah-nyata-persahabatan-seorang-anak-dengan-burung-jalak/revo-selalu-mandi-di-dekat-bulbul-ida-nurlaila-blogspot-co-id/” data-attachment-id=”1022″ sizes=”(max-width: 1000px) 100vw, 1000px” srcset=”https://i0.wp.com/burungnya.com/wp-content/uploads/2017/01/Revo-selalu-mandi-di-dekat-Bulbul-ida-nurlaila.blogspot.co_.id_.jpg?w=1024 1024w, https://i0.wp.com/burungnya.com/wp-content/uploads/2017/01/Revo-selalu-mandi-di-dekat-Bulbul-ida-nurlaila.blogspot.co_.id_.jpg?resize=300%2C217 300w, https://i0.wp.com/burungnya.com/wp-content/uploads/2017/01/Revo-selalu-mandi-di-dekat-Bulbul-ida-nurlaila.blogspot.co_.id_.jpg?resize=768%2C557 768w, https://i0.wp.com/burungnya.com/wp-content/uploads/2017/01/Revo-selalu-mandi-di-dekat-Bulbul-ida-nurlaila.blogspot.co_.id_.jpg?resize=242%2C175 242w” data-recalc-dims=”1″>Revo selalu mandi di dekat Bulbul (ida-nurlaila.blogspot.co.id)

Pada hari kelima, terjadilah insiden. Bulbul melarikan diri!
Awalnya ia diberi makan dan kandangnya dibersihkan. Rupanya kandang tidak dikancing dan Bulbul bisa membuka kandang. Raiblah sang burung.

Kami semua sedih dan kehilangan. Seharian kami mencari dan tidak ketemu. Beberapa orang sudah dikerahkan.

Sejauh ini Revo belum tahu, karena ia masih sekolah. Pulang sekolah ia langsung tidur dan belum tahu juga kabar terbaru Bulbul.

Siang itu Azka punya inisiatif untuk membeli burung baru sebagai ganti Bulbul. Maka berangkatlah Azka dan Amar ke toko yang menjual burung. Kutunjukkan tempat di dekat RS Wirosaban. Mereka berboncengan membeli burung.

Tak lama kemudian keduanya pulang membawa tiga burung hijau mungil. Masing-masing seharga Rp.8.000. Azka juga membelikan makanan yang sesuai dan telah bertanya beberapa hal tentang cara merawat burung itu, kepada penjualnya.

Sore hari, ketika saat mandi, kami beritahukan ke Revo tentang Bulbul yang telah pergi dan kami kenalkan pada tiga ekor burung pengganti. Revo sepertinya tidak terlalu sedih dan segera menyukai burung barunya. Ia tetap memanggil Bulbul. Jadi kami memanggilnya para Bulbul, kan ada 3 ekor.

Sehari berlalu. Hari kedua terjadilah kecelakaan. Pagi-pagi kami temukan salah satu dari burung hijau mungil terjebak dalam tempat minumnya. Mati. Kesedihan berulang. Kami harus kehilangan burung untuk ketiga kalinya. Kami kuburkan dia. Namun Revo belum memahami makna perpisahan itu. Ia biasa saja. Walaupun tidak mau melihat mayatnya dan tidak mau mengikuti prosesi penguburannya. Mungkin karena masih ada dua Bulbul hijau lainnya.

Namun hari ketiga terjadi lagi insiden yang lebih mengerikan.
Siang itu Revo bermain dengan Bulbul. Kandangnya diturunkan dan Revo memberi makan sambil bermain dekat kandang. Entah bagaimana Revo beralih main ke depan rumah dan pergi ke rumah tetangga.

Kandang para Bulbul tidak digantung, masih tergeletak di rerumputan. Tiba-tiba ada yang berteriak lantaran mendapati kandang itu telah berisi seekor kucing besar. Kucing itu segera berlari dengan seekor Bulbul masih meronta dimoncongnya. Bulbul satunya kami tak tahu, apakah telah terbang atau telah mengeram di perut sang kucing. Rupanya kucing itu bisa membuka kandang dan memasukinya.

Baca juga: Cara Melindungi Burung dari Bahaya Tikus, Ular, Semut, Nyamuk, dan Kucing

Kami semua terpukul. Kami merenungi kandang Bulbul yang kosong. Dua kandang malah. Esok harinya kami masih berkabung dan terus memandangi kandang itu dengan rasa bersalah.

“Mungkin kita memang tidak berbakat punya burung,” kata Azka menyerah.
”Buktinya, semua Bulbul bernasib tragis.”
“Iya, kalau begitu mbak Yuli besok tak suruh bawa pulang kandang itu,“ kataku.
Maka sore harinya aku memberi instruksi.
“Mbak, kandang yang kecil tolong dibersihkan dan digantung. Kandang yang besar bawa pulang saja. Mungkin lebih berguna jika di rumahmu. Di sini hanya membuat kami sedih karena ingat Bulbul jalak Kerbau itu.”

Sore itu sekitar menjelang maghrib, mbak Yuli membawa pulang kandangnya. Aku lega. Kuikhlaskan sudah bul-bul yang mati maupun yang hilang.

Namun keajaiban terjadi!
Selepas maghrib, seseorang mengetuk pintu. Rupanya Darojat, tetangga depan rumah yang juga driver keluarga kami, datang membawa seekor burung. Bulbul si jalak Kerbau!

Kamipun heboh. Sekalipun kondisinya lemas, lesu dan kusam, tapi kami gembira menyambutnya. Lima hari adalah waktu yang lama bagi kami yang bahkan sudah merelakan kepergiannya.
Rupanya seorang tetangga melihat mbak Yuli membawa pulang kandang burung. Ia lantas bertanya pada driverku, Darojat, apakah burung kami lepas kok kandangnya dibawa pulang mbak Yuli.

Ternyata tetangga tersebut menemukan Bulbul pada hari kedua setelah hilang. Tiga hari ia menanti kabar orang yang kehilangan burung. Namun tak ada yang mencari. Jadi, ia terus memeliharanya dalam kardus.

Kami belajar satu hal, saat kami mengikhlaskan sesuatu, ternyata Allah justru mengembalikannya kepada kami. Bulbul yang sekarang, rasanya jauh lebih berharga dan jauh lebih kami harapkan daripada saat pertama kali ia datang.

Kami berterimakasih pada pak Jono, tetangga yang menemukan Bulbul. Bulbul segera mandi dan makan. Sepertinya ia sangat kegerahan dan kelaparan. Esok paginya kami kehilangan kicauan Bulbul. Rupanya stress telah membuat Bulbul kehilangan ingatan pada kata-kata yang kami ajarkan.

Keadaan ini tak berlangsung lama. Segera setelah aktivitas mandi bersama Revo berjalan rutin, Bulbul kembali ceria dan berkicau. Kami tidak lupa menambah kancingan ekstra pada kandangnya karena ia sungguh pandai mematuk atau membuka pintu. Jalak Kerbau cerdas nian.

Bulbul ini suka makan pisang, khususnya pisang kapok putih yang agak mengkal, serta makanan burung yang warnanya hijau kecil-kecil. Ia juga mau nasi, sesekali. Mau makan belalang atau semut. Waah sebenarnya banyak juga hobi kulinernya.

Sejak ‘kepergiannya’ yang pertama, Bulbul sempat lepas lagi dua kali. Namun ia selalu mudah ditemukan. Mungkin karena sudah tidak pintar terbang atau mungkin karena sudah ‘omah’ atau jinak.

Waktu terus berlalu, mungkin sudah setahunan Bulbul berteman dengan Revo. Terutama dalam acara mandi bersama.

Suatu hari aku melihat aku melihat video tentang seorang ustadz pesantren yang diikuti oleh banyak burung peliharaannya. Tak lama kemudian kami (aku, Revo, suamiku, Azka, dan Dija) berkesempatan mengunjungi Kuala Lumpur. Pada salah satu perjalanan kami di pagi hari, kami melihat burung Gagak dan Jalak, berkeliaran di jalan raya.

Burung-burung ini sepertinya nyaman saja dan tidak takut pada kendaraan yang lalu lalang. Salah seorang ustadz yang mengantar kami bercerita tentang komentar seorang ustadz yang berkunjung ke Malaysia.

Begini komentarnya:
“Malaysia ini sungguh negeri yang tentram, buktinya banyak burung yang terbang bebas tanpa rasa takut. Kita bayangkan di Tanah Air jika ada burung yang terlihat, ada saja orang yang akan menembaknya.“

Sepulang dari Malaysia, aku tergelitik untuk mencoba, apakah Bulbul milik kami sudah jinak atau belum. Suatu siang, sengaja ku tutup semua pintu dan jendela rumah, lantas kulepaskan Bulbul dari kandangnya dalam ruangan dapur.

Baca juga: 5 Cara Menjinakkan Semua Jenis Burung Kicau Tanpa Mengeluarkan Biaya

Mula-mula ia tidak mau keluar kandang, lalu mau juga akhirnya. Dia berdiri di dinding kursi, lalu pindah ke meja. Kami hanya duduk diam untuk tidak menakutinya. Begitu teori yang kudengar tentang cara menjinakkan burung.

Pencarian Majalah Kicau Mania:

  1. Apakah Burung Jalak Punya Musuh Dalam Dunia
  2. Harga Jalak Gading
  3. Harga Burung Bulbul
Loading...

About the author

Dian Anggraini

Majalah Kicau menjadi tempat membaca dan mencari referensi para penggemar burung. Mari kita jalani hoby sambil menjaga kelestarian burung berkicau di Indonesia. Salam Kicau!

Leave a Comment